Paper Sosiologi
Kehutanan Medan,
September 2019
ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI
MASYARAKAT SUKU BAJO DI WAKATOBI SULAWESI TENGGARA
Dosen
Penanggungjawab :
Dr. Agus
Purwoko, S. Hut., M. Si.
Disusun Oleh :
Rahma Dewi
Harahap
171201042
Manajemen Hutan
5

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis
ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini. Makalah yang
berjudul “Aspek-Aspek Sosiologi Masyarakat Suku Bajo Di Wakatobi Sulawesi
Tenggara” ini dibuat untuk memenuhi syarat tugas bagi mahasiswa di Program
Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Sosiologi
Kehutanan, Bapak Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si, serta teman-teman di
lingkungan kampus yang telah ikut serta membantu dalam penyelesaian makalah ini
dengan memberikan ide dan dorongan semangat.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat diharapkan oleh penulis.
Medan, September 2019
Penulis
Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................... ...i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ..ii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang................................................................................................ ..1
1.2
Rumusan Masalah........................................................................................... ..1
1.3
Tujuan.............................................................................................................. ..1
BAB 2. ISI
2.1. Bagaimana
Interaksi Sosial Suku Bajo.......................................................... ..2
2.2. Bagaimana
Kelompok Suku
Bajo.....................................................................3
2.3. Bagaimana Norma Sosial Suku Bajo................................................................4
2.4.
Bagaimana Struktur Sosial Suku Bajo..............................................................4
2.5.
Bagaimana Perubahan Sosial Suku Bajo..........................................................5
BAB 3. PENUTUP
3.1
Kesimpulan ..................................................................................................... ..5
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari banyak
pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, agama, ras, dan adat
istiadat yang mempunyai perbedaan dan ciri khas yang dapat dibedakan mulai dari
pakaianya, tutur bahasanya, pekerjaanya, serta norma kehidupanya. Kodrat yang
membuat perbedaan keanekaragaman adalah suatu rahmat yang telah mendorong
tumbuhnya sikap saling pengertian, saling memahami, serta saling menghormati
antara satu sama lainnya. Dengan kesadaran berbeda itu, maka timbul kehendak
untuk saling menolong dan saling memerlukan dalam satu kehidupan yang ditopang
oleh cita-cita bersama menjadi satu bangsa dengan kebudayaan yang sangat kaya (Rasyati, 2017).
Sebagai makhluk sosial
manusia senantiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Ia ingin
mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi
dalam dirinya. Secara sosiologis setiap manusia dalam hidupnya senantiasa memiliki
kebudayaan, artinya konsep kebudayaan hanya ada pada kelompok-kelompok
pergaulan hidup individu dalam masyarakat Kebudayaan yang hidup dalam suatu
masyarakat pada dasarnya merupakan realitas dari pola pikir, tingkahlaku,
maupun nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat bersangkutan (Suharti, 2015).
1.2 Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
Interaksi Sosial Suku Bajo
2. Bagaimana Kelompok Suku Bajo
3. Bagaimana
Norma Sosial Suku Bajo
4. Bagaimana Struktur Sosial Suku Bajo
5. Bagaimana Perubahan Sosial Suku Bajo
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui Interaksi Sosial Suku Bajo
2. Untuk Mengetahui Kelompok Suku Bajo
3. Untuk
Mengetahui Norma Sosial Suku Bajo
4. Untuk Mengetehaui Struktur Sosial Suku Bajo
5. Untuk Mengetahui Perubahan Sosial Suku Bajo
BAB II
ISI
2.1. Interaksi
Sosial Suku Bajo
Secara keseluruhan perilaku komunikasi suku Bajo didasarkan
atas kuat lemahnya interaksi sosial dengan komunitas daratan. Semakin kuat suku
Bajo interaksi dengan komunitas daratan maka semakin besar juga munculnya
perilaku komunikasi baru yang identik dengan komunitas daratan. Faktor yang
mempengaruhi perilaku komunikasi suku Bajo dalam berinteraksi dengan komunitas
daratan yaitu: tingkat pendidikan, pola-pola kehidupan (sistem kekerabatan,
pola tempat tinggal, dan pola perkawinan), bahasa, kesamaan agama, adanya
kebutuhan, dan adanya bentuk-bentuk interaksi sosial (kerjasama, akomodasi,
asimilasi).
Dalam konteks budaya, dapat dikatakan bahwa perilaku
komunikasi suku Bajo dipengaruhi oleh budaya yang dianutnya, sebab budaya lebih
diarahkan pada tata cara perilakunya. Bentuk perilaku komunikasi suku Bajo
dapat dikatakan merupakan manifestasi dari pemahaman suku Bajo terhadap prilaku
komunikasi komunitas daratan.
Proses memahami prilaku komunikasi suku Bajo dan komunitas
daratan diperoleh dari kegiatan belajar, berpikir, merasa, mempercayai sesuatu
berdasarkan nilai-nilai kepatuhan budayanya/pola-pola budaya mereka. Misalnya
dalam berbahasa, berteman, tata cara berkomunikasi, penerapan interaksi dan
tindakan sosial dalam kegiatan ekonomi, politik, dan teknologi selalu
didasarkan pada pola-pola budaya.
2.2 Kelompok Sosial
Suku Bajo
Sistem etika, adat, dan budaya ini terbukti mampu membuat
masyarakat Bajo mampu bertahan dan hidup selaras dengan kawasan pesisir dan
lautan yang menjadi penghidupannya hingga sekarang. Kearifan dan pengetahuan
lokal tersebut merupakan hasil dari proses yang sangat panjang dari generasi ke
generasi. Salah satu kearifan lokal yang dimiliki suku Bajo dalam memperlakukan
lingkungannya adalah kegiatan yang dinamakan Bapongka atau biasa juga disebut
Babangi. Kearifan suku Bajo ditunjukkan dengan sangat menjaga lingkungan laut.
Hal ini dilakukan karena mereka sadar sangat membutuhkan laut sebagai sumber
energi atau kehidupan.
Maka kemudian memperlakukan alam laut itu dengan baik adalah
sebuah kewajiban bagi mereka. Apabila laut dijaga dengan baik, maka ikan-ikan
juga akan mendapatkan kehidupan yang baik, yang mana nantinya ikan itu akan
diambil oleh manusia sebagai sumber energi. Pada akhirnya tradisi ini dianggap
sebagai sebuah siklus kehidupan, manusia dan makhluk hidup laut butuh laut,
manusia menjaga laut sehingga laut juga akan memberikan apa yang dibutuhkan
oleh manusia. Kita tidak akan menemukan kotoran akan dilempar dilayangkan
serampangan ke laut di lingkungan pemukiman masyarakat Bajo. Mereka sangat
menjaga agar laut terus bersih, jauh dari kerusakan.
2.3 Norma Sosial Suku
Bajo
Nilai budaya yaitu nilai yang hidup dalam pikiran
masyarakat mengenai hal-halyang mereka anggap amat bernilai dalam hidupnya dan
wujudnya dapat berupa adatistiadat, norma-norma, yang mengatur tindak budaya
yang adab dan menjadi pedomanmanusia dalam bertindak dan berperilaku. Nilai
budaya adalah tingkat yang palingtinggi dan yang paling abstrak dari adat
istiadat. Masyarakat Bajo di Kepulauan Wakatobi biasa mengadakan upacara
tradisional Lapambai sebagai solusi agar anaknya tidak terserang penyakit
serta anak tersebutselalu diberikan rahmat atau karunia Tuhan. Lapambai
merupakan sebuah istilah yang terdapat pada masyarakat Wakatobi.
Lapambai pada awalnya adalah nama orang yangmengembangkan cara pengobatan
tradisional, dimana dia datang dari luar Tomia,Wakatobi.
2.4
Struktur Sosial Suku Bajo
Sruktur sosial yang ada di suku Bajo, antara lain
berupa komunitas nelayan, kelompok-kelompok sosial, dan stratifikasi sosial.
Dalam komunitas nelayan digambarkan keadaan tiap satuan komunitas yang terbagi
dalam beberapa wilayah administratif pemerintahan. Pada komunitas nelayan
terdapat kelompok-kelompok sosial yang dalam perkembangannya melahirkan
stratifikasi sosial sebagai konsekuensi dari perbedaan penguasaan alat-alat
produksi dan pemasaran. Selanjutnya pada bab ini disajikan pula relasi sosial
antar berbagai komponen struktur sosial komunitas nelayan suku Bajo di Pulau
Baliara.
2.5 Perubahan Sosial Suku Bajo
Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat
suku Bajo di dorong olehfaktor lingkungan, intervensi pemerintah, pertambahan
penduduk, serta pertemuan dengan budaya lain utamanya masyarakat daratan.
Adapun dampak positif dari perubahan sosial adalah kesadaran untuk melanjutkan
pendidikan , terciptanya lapangan kerja baru , peningkataan taraf
hidup, serta moderenisasi sistem perikanan, sedangkan dampak
negatifnya yaitu mulai berkuranya eksistensi budaya masyarakat bajo,
berubanhnya pandangan hidup, serta tumbuhnya pola hidup konsumtif. Kurang
tersedianya sarana sanitasi di kepulauan suku bajo menjadi masalah yang
menjadi perhatian pemerintah Pusat Khusunya Kementrian Kelautan Dan
Perikanan, diamana pemerintah memberikan bantuan berupa bangunan dan
fasilitas toilet beserta kelengkapan pengelolaan air bersih. Akan
tetapi peralatan tersebut satu satunya yang ada di komunitas suku bajo, di
desa mola wangi - wangi selatan, dan semoga dapat menjadi contoh untuk
masyrakat untuk membuat sendiri sarana sanitasi agar kebutuhan sarana sanitasi
dapat di tingkatkan.
BAB III
KESIMPULAN
Secara keseluruhan perilaku komunikasi suku Bajo didasarkan
atas kuat lemahnya interaksi sosial dengan komunitas daratan. Semakin kuat suku
Bajo interaksi dengan komunitas daratan maka semakin besar juga munculnya
perilaku komunikasi baru yang identik dengan komunitas daratan. Perubahan
sosial yang terjadi di masyarakat suku Bajo di dorong olehfaktor
lingkungan, intervensi pemerintah, pertambahan penduduk, serta pertemuan dengan
budaya lain utamanya masyarakat daratan. Sruktur sosial yang ada di suku
Bajo, antara lain berupa komunitas nelayan, kelompok-kelompok sosial, dan
stratifikasi sosial. Dalam komunitas nelayan digambarkan keadaan tiap satuan
komunitas yang terbagi dalam beberapa wilayah administratif pemerintahan.
DAFTAR PUSTAKA
Rasyati. 2017. Eksistensi
tradisi kabuenga dalam
kehidupan sosial masyarakat di kecamatan wangi-wangi kabupaten wakatobi. Jurnal
dalam masyarakat wakatobi. 27(1):
1 – 15.
Artanto, Y. K. 2017. Bapongka, sistem budaya suku bajo dalam menjaga
kelestarian sumber daya pesisir. Sabda. 12 (1): 52 – 69.
Suryanegara. E., Suprajaka., dan , Nahib. 2015. Perubahan sosial pada
kehidupan suku bajo: Studi kasus di kepulauan wakatobi, sulawesi tenggara. Majalah Globe. 17 (1): 067 – 078.
Sampeali, Y. 2011. Perilaku komunikasi suku bajo dalam berinteraksi
dengan komunitas daratan di desa terapung kecamatan mawasangka kabupaten buton.
Jurnal Komunikasi KAREBA. 1(3): 230 – 35.
Sangat membantu buat ssaya
BalasHapusMakasih kakak
HapusTerima kasih sangat membantu
BalasHapusOk mbak
Hapus👌
BalasHapusTema yg cukup menarik..pada masa2 seperti ini walaupun banyak suku tapi harus bersatu..sangat cocok dengan tema nya padaa masa saat ini
BalasHapusMakasih
Hapussangat bagus dan menarik, ditunggu karya selanjutnya yaa..
BalasHapusMakasih mbak
HapusSangat membantu, thxx info nya buk
BalasHapusAsikkkk, ok buk
HapusSangat menarik
BalasHapusLanjutkan karya2 berikutnya
Thnks untuk infonya dek. Nambah pengetahuan
BalasHapusMakasih infonya kakak. Cukup menarikk
BalasHapusSangat menarik
BalasHapusSemoga lebih baik kedepan
Moga cepat wisuda
BalasHapusMantap Nantulang 😊
BalasHapusMantap ok
BalasHapusBagus sekali
BalasHapusSangat membantu👍
Good
BalasHapusBagus ya
BalasHapuswahh, terimakasih infonya
BalasHapustqq infonya, lebih giat lagi dan percantik lagi tampiln blognya agar mengesankan
BalasHapus